Meluruskan Kekeliruan tentang Bahasa Aceh

bahasa-aceh1Banyak yang berkata, ada unsur-unsur bahasa Aceh yang unik, misalnya jenis-jenis baubèe’. Ada banyak jenis bau dalam bahasa Aceh, di antaranya bèe hanyi/anyi, bèe kh’èp, bèe kh’op, bèe meuh’ӧng, bèe banga, bèe angèk, bèe ch’ung. Disebut unik karena bahasa Indonesia tidak memiliki jumlah bau sebanyak bahasa Aceh.

Penyebutan bau yang beragam dalam bahasa Aceh seperti anggapan di atas bukanlah unik karena bahasa lain juga memiliki kosakata untuk menyebut bau itu sendiri meskipun dengan kosakata yang berbeda. Namanya saja bahasa yang berbeda.

Yang disebut unik itu, misalnya begini. Bahasa Aceh memiliki keunikan dalam hal ‘persesuaian’ (agreement). Sebut saja dalam kalimat “Gopnyan ka geujak u peukan”. Coba lihat pada kalimat tersebut ada ‘geu’ pada verba ‘jak’. Mengapa ada ‘geu’? Jawabannya tentu saja karena ada ‘gopnyan’ yang merupakan pronomina persona ketiga. Kasus serupa juga terlihat pada kalimat seperti “Jih ka jitak lé glanteu, Kèe han ék kujak, Kah kutampa sigö, Meu yah hana kutupu.

Coba perhatikan dengan saksama. Hampir semua verba dalam kalimat-kalimat itu dilekati oleh persesuaian pronomina persona. Kasus seperti ini tidak ada dalam bahasa Indonesia, bahkan bahasa mana pun di dunia ini. Kalaupun ada, kasusnya berbeda secara signifikan. Tidak ada kalimat dalam bahasa Indonesia “Ibu sudah ibupergi ke pasar”, atau “Beliau sudah beliaupergi ke pasar”. Bandingkan dengan bahasa Aceh, “Mak ka geujak u peukan”, atau “Gopnyan ka geujak u peukan”. Ini namanya unik. Artinya, kasus-kasus yang ada dalam bahasa Aceh (seperti yang saya sebutkan di atas), baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis ada dalam bahasa Aceh dan tidak ada dalam bahasa lain.

Hal lain yang perlu diluruskan, ada yang menyebutkan bahwa semua hitungan dalam bahasa Aceh diwakili oleh kata boh yang secara umum diartikan dengan buah dalam bahasa Indonesia. Disebutkan pula oleh sebagian orang bahwa ini merupakan keunikan lainnya dari bahasa Aceh. Anggapan seperti ini juga keliru.

Anggapan seperti itu tidak tepat. Tidak semua hitungan dalam bahasa Aceh dinyatakan dengan boh. Pernyataan tersebut sungguh tidak logis (premisnya salah). Bukankah dalam bahasa Aceh juga ada kata lain yang juga dipakai untuk menghitung, seperti ‘ôn’ misalnya pada konstituen ‘dua ôn’, krèk/krak’ misalnya pada satuan ‘dua krèk/krak’, ‘bak’ misalnya pada kata ‘si bak’.  ‘Boh’ hanyalah salah satu nomina penggolong (classifier) dalam bahasa Aceh yang dipakai untuk menghitung sesuatu. Jadi, ‘boh’ di sini tidak unik.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s