Abuya Muhibuddin Waly, Pemimpin Tarekat dari Aceh

Berjuluk Negeri Serambi Makkah, pantas bila Provinsi Aceh memiliki segudang ulama karismatik sejak dahulu hingga kini. Ulama tersebut bukan hanya memiliki tempat di hati masyarakat Aceh, namun juga panutan umat dalam berbagai hal. Salah satu ulama yang terkenal menjadi teladan masyarakat Aceh adalah Abuya Tengku Muhibbudin Waly al-Khalidy.

Tokoh yang lebih akrab dikenal dengan Abuya Muhibbudin Waly ini merupakan sosok alim yang besar di Tanah Rencong, guru besar Tarekat Naqsyabandiyah.

Tidak hanya dikenal sebagai pegiat tarekat, sosok kelahiran Aceh, 17 Desember 1936 ini juga aktif sebagai pendidik. Ia adalah pemimpin Pondok Pesantren Darussalam, Labuhan Haji. 
Ia memiliki ribuan murid yang tersebar di seluruh tanah Melayu nusantara mulai dari Aceh sampai ke tanah Jawa, Sulawesi, Malaysia bahkan Brunei Darussalam, dan Pattani (Siam).

Abuya piawai pula mengarang kitab. Ia dikenal produktif. Terutama usai masa jabatannya di DPR-RI berakhir. Sejumlah kitab sukses ia karang dan bertahan hingga saat ini. Di antaranya, ia mengarang kitab penjelas (syarah) kitab al-Hikam. Kitab karya Imam Ahmad Abu al-Fadhal atau kerap dipanggil Ibn Athaillah Iskandari (Askandari) yang ia syarahi tersebut adalah kitab yang berbicara tentang hakikat hikmah, tauhid, dan tasawuf.

Buah karya Abuya tersebut pun mendapat respons positif. Bahkan, kitab syarah tersebut diakui oleh segenap ulama Melayu nusantara pada pertemuan di Singapura, Februari 1992. Pertemuan tersebut menetapkan karya Abuya tersebut sebagai acuan utama resmi yang dipakai oleh ulama Melayu nusantara untuk memahami kitab al-Hikam.

Selain Syarah al-Hikam, ia menulis buku ensiklopedi tarekat yang berjudul Capita Selecta Tarekat Shufiyah, Tafsir Waly, dan Fath al-Waly yang merupakan penjelas dari Jauharat at-Tauhid, dan Nahjatun Nadiyah ila Martabat as-Shufiyah. Beberapa kitabnya bercorak sastrawi, seperti syair tawasul tarekat yang ia ubah ke dalam bahasa Arab dan Melayu.

Didikan sang ayah
Wajar bila Abuya tumbuh besar sebagai seorang yang alim. Lingkungan keluarga sangat mendukung. Ia adalah putra tertua dari ulama terkemuka di kalangan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy, tokoh besar asal Minangkabau yang bergelar Syekh Mudo Waly. Ibunda Abuya bernama Ibu Hajjah Rasimah

Abuya Muhibbuddin belajar Tarekat Naqsyabandiyah kepada ayahandanya. Beberapa tahun kemudian, setelah dianggap cukup umur, sang ayah akhirnya menunjuk Abuya sebagai mursyid Tarekat Naqsyabadiyah.

Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan dari sang ayah sepenuhnya. Dari bekal pendidikan agama yang diwariskan oleh ayahnya itulah, Abuya Muhibbuddin berhasil mengambil gelar doktor di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dengan disertasi tentang “Pengantar Ilmu Hukum Islam”.

Berkat bakat sebagai seorang alim yang karismatik, Abuya mewarisi sang ayah yang berdarah Minang. Sedangkan, paman Syekh Mudo Waly adalah Datuk Pelumat, seorang ulama yang tersohor di Minangkabau.

Dari sinilah sang ayah, Syekh Mudo Waly, mewarisi karisma dan karamahnya. Jika ditelusuri dari sanad keilmuan, Syekh Mudo Waly sangat kredibel. Ayahandanya itu merupakan sahabat Syekh Yasin al-Fadany, pakar ilmu hadis asal Padang, saat mereka berguru kepada Sayid Ali Al Maliki, kakek Sayid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky Al Maliki Al-Hasany, di Makkah. Karena persahabatan itu pula, Sayid al-Maliki kelak mengijazahkan silsilah sanad tarekat yang dimilikinya kepada Abuya.

Gus Dur
Abuya menyelesaikan pendidikan bangku kuliah di al-Azhar Kairo pada 1971. Ia merupakan teman satu angkatan dengan mantan presiden RI, almarhum KH Abdurrahman Wahid. Abuya menjadi contoh yang ideal bagi pegiat tasawuf. Keseimbangan yang dicontohkan merupakan teladan. Ketajaman spiritual diimbangi dengan modal ilmu syariat yang mapan.

Sebagai guru besar, Abuya pernah mengajar di berbagai perguruan tinggi. Di antaranya, Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin, Perguruan Tinggi Islam Darussalam Labunhanhaji Aceh Selatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ Jakarta, dan Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta.

Pada 7 Maret 2012, kabar duka menyeruak di seluruh pelosok tanah Aceh Darussalam. Abuya Muhibbudin Waly berpulang ke pangkuan Ilahi. Kepergian sosok sufi yang alim dan pakar di berbagai bidang ini mewariskan khazanah intelektual yang luas. Tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga karya-karya tulis di bidang sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi (perbankan), national security (militer), sejarah, dan ketatanegaraan.ed: nashih nashrulllah.

***
Antara Sanad, Mursyid, dan Guru Tarekat

Suatu saat ketika menunaikan ibadah haji, Abuya bertemu al-Maliki, dan ia menjelaskan bahwa dirinya merupakan putra Syekh Mudo Waly. Pertemuan tersebut mengharu biru disertai isak tangis Sayid al-Maliki. Dari sinilah Sayid al-Maliky mengijazahkan sanad tarekatnya kepada Abuya. Abuya juga mendapatkan sanad keilmuan dari para ulama besar. Di antaranya Syekh Haji Abdul Ghani al-Kampari, dan Syekh Muhammad Yasin al-Fadany.

Petuah-petuah bijak masih terngiang di telinga dan sangat membekas di hati para muridnya. Pandangan-pandangannya tentang dunia tasawuf masa kini juga sangat kritis. Soal pergerakan tasawuf sekarang, Abuya berkomentar, “Saat ini ada pergeseran nilai (bertambahnya fungsi tarekat—Red.) di kalangan pengikut tarekat.

Jika pada masa lampau tarekat diikuti oleh orang yang benar-benar hendak mencapai makrifat kepada Allah SWT, kedekatan dengan-Nya, sekarang ini tarekat malah sering jadi tempat pelarian bagi orang-orang yang menemukan kebuntuan dalam hidup.”

Ia juga berkomentar pula tentang hubugan antara guru dan murid tarekat. Menurutnya, posisi mursyid bagaikan nakhoda kapal pengembaraan sang murid. Sudah selayaknya sang mursyid memberikan kemudahan-kemudahan agar sang murid mencapai puncak pencarian tertinggi. “Carilah guru untuk belajar ilmu agama karena banyak guru banyak doa,” tuturnya.[]

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s