Ubah versus Rubah

safriandirosmanuddin.worpress.com

Usaha menjadikan sesuatu berbeda dari semula atau maujud awalnya disebut ubah. Mengacu pada makna yang sama, kata rubah juga sering digunakan. Meski pemakaiannya bersaing, barangkali bila dimasukkan ke dalam rekor Muri, rubah akan muncul sebagai kata salah alias galat yang paling banyak dipakai. Adapun ubah, lewat.

Rubah dalam konteks arti seperti yang disebutkan di atas dikatakan sebagai bentuk yang salah karena tak ada makna kata seperti itu. Bila kita baca di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) punya Pusat Bahasa, rubah berarti binatang jenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb.; Canis vulpes. Hanya ini artinya. Tak ada yang lain, tak ada yang namanya menjadikan sesuatu berbeda dari semula atau maujud awalnya.

Kalau kurang percaya, coba telusuri Mbah Google. Pada si Mbah, ternyata banyak sekali hasil pencarian yang memunculkan kata rubah atau merubah.

Terkadang ada pula sebagian orang yang laku lajak berkata, rubah itu sesungguhnya basar dari berubah karena ketika diucapkan, be-rubah, bukan ber-ubah. Supaya efektif, diucapkanlah rubah.

Taklimat seperti itu juga sebenarnya bergalat. Perlu diketahui bahwa meski pengucapannya adalah be-rubah, ini tak serta-merta menjadikan rubah sebagai bentuk yang legal alias baku. Alasannya, ketika rubah dipakai, jadilah bentuk itu sebagai kata dasar, yaitu kata yang tidak punya arti lagi jika “dicabik-cabik” menjadi bagian terkecil, seperti ru atau bah.

Nah, karena telah menjadi kata dasar, perlu dilihat ke kamus ihwal maknanya. Hasilnya seperti yang saya sebut di awal, yaitu binatang jenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb. Tentu pula tak ada homonim untuk kata ini seperti halnya hak pada hak asasi manusia dan hak pada hak sepatu.

Ini salah satu pampanan mengapa rubah adalah bentuk yang salah bila disamakan maknanya dengan ubah.

Kalau alasannya efektif alias hemat, ini rasa-rasanya juga terlalu berlaku lajak sebab ubah lebih hemat daripada rubah. Lihat saja, ubah tak perlu ‘r’ seperti halnya rubah.

Lalu, mengapa ada kata rubah pada berubah? Ini hanya persoalan cara membaca dan cara ini tak dapat dipakai sebagai patron untuk mengukur kebakuan kata. Lagipula, tak ada orang yang mengucapkan, ber-ubah, pastilah be-rubah.

Lantas bagaimana mengetahui bakunya? Jawabannya tentu saja dengan melihat kata dasar bentuk itu. Perlu diketahui, kata tersebut adalah kata berimbuhan yang maknanya ‘membuat sesuatu menjadi berbeda dari bentuk awalnya’. Oleh karena itu, tentu saja kata ini terdiri dari awalan ber- dan kata dasar ubah. Sekali lagi, bukan be- dan rubah. Maka, bila dari berubah diambil kata dasarnya saja, tentulah ubah yang benar. Salah kaprah bila ditaklimatkan bahwa rubah yang benar.

Untuk mempermudah kita mengingat, cermati kata dasar berikut: usaha, umur, untung. Bila dilekati imbuhan ber- tentulah menjadi berusaha, berumur, beruntung. Lalu, bila hendak diambil kata dasarnya, pastilah tidak ada rusaha, rumur, runtung. Nah, begitu juga kasus yang sama terjadi pada rubah.

Memang, si rubah benar-benar liar hingga mampu mencabik-cabik si ubah  menjadi tak berbentuk. Liarnya si rubah juga menyebabkan rusaknya bentuk-bentuk lain. Lihat saja mengubah yang kemudian sangat sedikit dipakai tinimbang merubah.

Pengubahan itu berimbas pada berubahnya makna, awalnya adalah ‘menjadikan sesuatu berbeda dari awalnya’, kemudian bermakna ‘menjadi sebagai binatang rubah’. Tentu perubahan seperti itu tak dikehendaki oleh khalayak. Apa sebab mengubah menjadi merubah? Alasannya, lagi-lagi karena virus rubah yang “memperkosa” naluri kebahasaan seseorang hingga tak “perawan” lagi.

Maka, mulai sekarang gunakanlah kata ubah, jangan rubah, begitu pula mengubah, bukan merubah.

Sebagai penutup tulisan ini, mari resapi dan pahami ajakan pakar bahasa Indonesia ternama, Tuan Anton M. Moeliono, berikut. Katanya begini, “… dalam membina bahasa Indonesia yang modern sebaiknya kita tetap memakai berubah dan mengubah sebagai bentuk baku.” Betapapun, rupa-rupanya tetap diperlukan argumen untuk membunuh Si Rubah dalam berubah, sekaligus membenarkan eksistensi bunyi “r”, yakni pengaruh bahasa Sunda terhadap bahasa Indonesia: “… ada kata obah ‘berubah’ dan ngarobah ‘mengubah’” (Moeliono et.al., 1990: 42).

Sikap peduli dan cermat dalam berbahasa, baik lisan maupun tulisan mutlak perlu dikuasai oleh masyarakat pengguna bahasa itu sendiri agar bahasa Indonesia yang menjadi ciri khas bangsa ini selalu lestari dan dinamis. []

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s