Bahasa dan Penalaran: Waktu dan Tempat Kami Persilakan

Bahasa merupakan penyampaian pikiran dan perasaan manusia dalam bentuk lisan atau tulisan. Penyampaian sesuatu kepada orang lain tentulah harus berdasarkan penalaran yang benar. Zainal Arifin dan Farid Hadi dalam bukunya 1001 Kesalahan Berbahasa mendefinisikan penalaran sebagai suatu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Dengan kata lain, penalaran (reasoning) ialah proses mengambil simpulan (conclusion, inference) dari bahan bukti atau petunjuk (evidence), ataupun yang dianggap bahan bukti atau petunjuk (Moeliono, 1988:124-125).

Penalaran yang benar dalam penyampaian sesuatu lahir dari suatu pemikiran yang jernih, dan harus ditunjang oleh bukti-bukti atau data yang benar. Sebaliknya, penalaran yang dilandasi oleh pemikiran yang kusut atau alasan yang sesat dapat menghasilkan penalaran yang salah sehingga menjadi tidak logis. Intinya, jika sesuatu disampaikan dengan nalar yang salah, sulit rasanya orang lain memahami apa yang disampaikan oleh si penyampai pesan. Tak hanya itu, penalaran berbahasa yang tidak benar juga dapat menimbulkan kesalahpahaman akibat isi pesan yang ambigu.

Dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, banyak kalimat disampaikan dengan nalar yang salah akibat ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Bahkan, di antara kalimat yang salah nalar itu terdapat kalimat yang sudah lazim dipakai oleh banyak orang, menjadi suatu tradisi yang sudah meudarah gapah dalam dirinya, dan merupakan kesalahan berjamaah. Berikut ini ditampilkan beberapa contoh kalimat yang salah nalar.

Waktu dan tempat kami persilakan. Kalimat Acara berikutnya adalah sambutan Bapak Kepala Sekolah SMAN 4, waktu dan tempat kami persilakan saban waktu diucapkan oleh para pewara (pembawa acara atau protokol). Meski telah sering diucapkan dan lazim dipakai oleh masyarakat, kalimat tersebut sebenarnya tidak dapat diterima dengan akal sehat atau logika berpikirnya salah. Jalan pikiran pewara tersebut kacau karena yang harus memberikan sambutan adalah kepala sekolah, tetapi yang dipersilakan justru waktu dan tempat.

Lantas, apakah betul waktu dan tempat dapat memberikan sambutan? Dalam kalimat awal di atas, jelas bahwa yang akan memberikan sambutan adalah Bapak Kepala Sekolah SMAN4, bukan waktu, bukan pula tempat. Namun, dalam kalimat selanjutnya jalan pikiran pembawa acara kacau, yakni mempersilakan waktu dan tempat, seolah-olah yang diundang adalah waktu dan tempat, seperti meja dan kursi.

Berkaitan dengan hal ini, Zainal Arifin dan Farid Hadi dalam bukunya 1001 Kesalahan Berbahasa mengatakan bahwa kalimat seperti itu masih lumayan, meski tidak bernalar. Pendengar dalam pertemuan itu masih menganggap beruntung karena dapat menerima informasi yang dimaksudkan pewara. Seandainya jalan pikiran pewara itu tergelincir parah, misalnya mengucapkan kursi dan meja kami persilakan, tentu akan semakin kacau jadinya. Agar bernalar, kalimat di atas harus diperbaiki menjadi Acara berikutnya adalah sambutan Bapak Kepala Sekolah SMAN 4. Bapak Kepala Sekolah kami persilakan.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s