Kata Ganti Orang dalam Bahasa Aceh

481021_4086573970758_2061866339_nSemua bahasa di dunia ini memiliki kata ganti orang. Kata ganti orang (personal pronoun) merupakan kata-kata yang digunakan untuk menggantikan orang atau benda. Meski setiap bahasa memiliki kata ganti orang, keunikan yang diemban oleh masing-masing kata ganti tidaklah sama.

Bahasa Aceh memiliki sejumlah kata ganti seperti berikut ini:

lôn/ lông/lôntuan/ulôntuan ‘saya’; kèe ‘aku’; droeneuh ‘Anda’; gata ‘Anda’; kah ‘kamu’; droeneuhnyan‘ia, beliau’; gopnyan ‘ia, beliau’; jih ‘   ia’; geutanyoe ‘kita’; kamoe ‘kami’

Kata ganti yang digunakan dalam bahasa Aceh memiliki keunikan yang tentu saja tidak ditemukan dalam bahasa Austronesia lainnya, seperti bahasa Indonesia. Keunikan yang dimaksud adalah terdapatnya persesuaian kata ganti orang (agreement). Persesuaian ini digunakan setelah kata ganti orang.

Bentuk-bentuk persesuaian itu adalah sebagai berikut.

lôn/ lông/lôntuan/ulôntuan persesuaiannya adalah lôn-, -lôn; droeneuh persesuaiannya adalah neu-, -neuh; gata persesuaianya adalah ta-; kah persesuaiannya ka; droeneuhnyan persesuaianya adalah neu-, -neuh; gopnyan persesuaiannya adalah geu-, -geuh; jih persesuaiannnya adalah ji-, ih; geutanyoepersesuaianya adalah ta-, -teuh; kamoe persesuaiannya adalah meu-, -meuh, -teu.

 Penggunaan kata ganti orang dan persesuaian itu dapat dilihat dalam beberapa kalimat berikut ini.

Lôn lônjak u keudèe ‘saya ke kedai’; – Droeneuh peue neupeugöt? ‘Anda sedang apa’;

– Gopnyan ka geujak ‘beliau sudah pergi’; – Geutanyoe ta-éh inan singöh ‘kita tidur di sana besok’, -Kamoe meujak u krueng ‘kami ke sungai’

Perhatikan pada kali­mat-kalimat bahasa Aceh itu, lalu bandingkan dengan terjemahan bahasa Indonesianya. Berbeda bukan. Pada kali­mat bahasa Aceh, sesudah digunakan kata ganti orang, persesuaian mengikutinya dan melekat pada kata kerja; lôn- melekat pada jak, neu- melekat padapeugöt, geu- pada jak, ta- pada éh, meu- pada jak.

Akan tetapi, tak demikian halnya dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak memiliki persesuaian seperti dalam bahasa Aceh. Jadi, tidak ada kali­mat bahasa Indonesia seperti berikut ini: – Saya sayapergi ke kedai; – Anda sedang Andamengerjakan apa?; -Beliau sudah beliaupergi; Kitakitatidur di sana besok; Kami kamipergi ke sungai.

Keunikan kata ganti dan penyesuaiannya itu semakin nyata terlihat jika dikaitkan dengan dialek-dialek bahasa Aceh.

Yang perlu dicermati lagi adalah mengenai tata penulisan persesuaian kata ganti orang itu. Secara kebahasaan, kata ganti orang itu meru­pakan bentuk terikat. Artinya, bentuk-bentuk itu tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata dalam suatu kali­mat karena tidak punya arti. Kasusnya sama dengan imbuhan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulisan persesuaian ini harus dirangkaikan dengan kata kerja, tidak boleh terpisah seperti dalam kali­mat berikut. -Kamoe meungiengureung mate lam krueng (penulisan yang benar); –Kamoe meu ngieng ureung mate lam krueng. []

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s