Terjemahan, Saduran, Plagiat

Ketiga kata yang disebutkan dalam judul di atas bukanlah istilah yang asing, apalagi bagi orang yang berkecimpung dalam bidang tulis-menulis. Terjemahan, saduran, dan plagiat juga sering diperdebatkan perbedaannya oleh orang. Ada yang mengatakan bahwa ketiga kata itu bermakna sama, ada pula sebagian lagi mengatakan tidak sama. Lantas, bagaimanakah yang sebenarnya? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mengemukakan pernyataan J.S. Badudu seorang ahli bahasa.

Terjemahan merupakan hasil menerjemah. Badudu dalam bukunya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II menyebutkan bahwa menerjemah adalah kegiatan mengalihkan suatu tulisan atau pembicaraan (lisan) dari suatu bahasa ke bahasa yang lain. Bahasa yang diterjemahkan itu selanjutnya disebut sebagai bahasa sumber, sedangkan bahasa yang digunakan untuk menerjemah disebut bahasa sasaran.

Lebih lanjut, Badudu menjelaskan bahwa dalam karya terjemahan haruslah selalu dijaga hasilnya benar-benar sama dengan sumbernya sehingga kalau orang mendengar atau membaca suatu hasil terjemahan, dia seperti mendengar pembicaraan atau membaca tulisan aslinya. Menerjemah bukan memindahkan atau mengganti kata demi kata, melainkan memindahkan konsep, pengertian, dan amanat.

Saduran merupakan hasil kerja menyadur. Menyadur dapat dikatakan sebagai kegiatan memindahkan atau mengalihbahasakan suatu tulisan dari suatu bahasa ke bahasa lain secara bebas. Dikatakan bebas karena penyadur dapat mengubah karya sadurannya itu, baik yang berkaitan dengan jalan cerita, setting, maupun nama-nama tokoh pelaku cerita.

Dalam terjemahan, si penerjemah harus selalu menjaga agar terjemahannya persis sama dengan karya aslinya, tanpa ada perubahan apa pun seperti dalam saduran. Contoh saduran adalah cerita kanak-kanak karya Merari Siregar yang berjudul Si Jamin dan Si Johan. Cerita ini disadurnya dari Jan Smess karya penulis Belanda Justus van Maurik. Karya van Maurik itu ber-setting-kan Belanda, tetapi karya Merari Siregar ber-setting-kan Jakarta, bercerita tentang anak Indonesia, dan menggunakan nama Indonesia bagi tokoh pelakunya.

Saduran juga dapat dikatakan sebagai karangan yang dituliskan kembali dalam bentuk yang lain, misalnya karya yang berbentuk puisi ditulis kembali dalam bentuk prosa, atau sebaliknya. Contohnya adalah Hikayat Hang Tuah yang merupakan prosa ditulis kembali oleh Amir Hamzah dalam bentuk puisi.

Badudu menegaskan bahwa perbedaan yang menonjol antara terjemahan dan saduran ialah adanya kebebasan pada penyadur untuk mengubah-ubah karya asli, sedangkan bagi penerjemah, kebebasan itu tidak ada.

Yang terakhir adalah plagiat. Plagiat ialah karya hasil jiplakan. Berkaitan dengan hal ini, Badudu menjelaskan bahwa mengutip sebagian atau seluruhnya karya orang lain dalam bentuk asli, atau terjemahan, atau saduran, kemudian menyatakan, mengumumkan, atau membubuhkan nama sendiri sebagai empunya karya itu disebut melakukan plagiat. Pelakunya disebut plagiator. Tindakan yang dicap sebagai plagiat sangat memalukan, memberi aib bagi pelakunya. Itu sebabnya, dalam suatu tulisan perlu selalu dicantumkan sumber suatu kutipan, nama buku, atau karangan dalam buku mana, nama majalah, surat kabar, narasumber yang diwawancarai, nama pengarang, dan nama penerbit, serta tahun karya itu dipublikasikan. Semua itu untuk menjaga nama baik penulis.[]

*Substansi tulisan ini dikutip dari buku yang ditulis oleh J.S. Badudu, judulnya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II, 1991, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s