Standarisasi atau Standardisasi?

Ketika searching di Google atau mesin pencari lain untuk dua kata pada judul di atas, Anda pasti menemukannya. Di web http://www.bsn.go.id/, misalnya, Anda dapat melihat nama lembaga itu ditulis menggunakan kata standardisasi; Badan Standardisasi Nasional. Kata standardisasi itu juga digunakan pada beberapa tulisan di media massa, baik cetak maupun elektronik. Begitu pula kata standarisasi kerap digunakan dalam berbagai tulisan.

Kenyataan itu merupakan indikasi bahwa dalam praktik berbahasa, pemakaian standardisasi cukup bersaing dengan standarisasi. Lantas, di antara kedua kata itu, bentuk manakah yang benar.

Perlu diketahui bahwa standarisasi dan standardisasi merupakan kata yang diserap dari bahasa asing, tepatnya bahasa Inggris. Berkaitan dengan hal ini, Badudu dalam bukunya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II menyebutkan bahwa bila suatu kata diserap dari bahasa asing, ada dua hal yang harus dipegang teguh, yaitu (1) bentuk yang dipungut itu disesuaikan dengan bentuk bahasa Indonesia (sistem fonologi dan morfologinya); (2) sedapat-dapatnya ejaannya dekat pada ejaan aslinya.

Lebih lanjut, Badudu menjelaskan bahwa dalam bahasa Inggris terdapat kata standard dan ditulis dengan standar ketika digunakan dalam bahasa Indonesia. Penghilangan huruf d pada kata tersebut, setelah dipungut, dilakukan karena bunyi itu tidak berfungsi dalam bahasa Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada kata seperti impor dan ekspor yang merupakan hasil pungutan dari bahasa Inggris, yaitu import dan eksport. Huruf t pada akhir kedua kata tersebut dihilangkan karena tidak berfungsi.

Kalau bunyi akhir yang tak berfungsi itu tetap dipertahankan, timbul kesulitan bila memberi akhiran pada kata itu. Akibatnya, kata standard bila diimbuhkan imbuhan pen-an menjadi penstandardan, padahal bila huruf d pada akhir kata itu dihilangkan, hasilnya adalah penstandaran. Menurut Badudu, bentuk terakhir ini lebih sesuai karena sama dengan bentuk lain dalam bahasa Indonesia, misalnya penggambaran, pelemparan. Begitu pula bentuk menstandarkan lebih mudah diucapkan daripada bentuk menstandardkan karena terdapat tiga konsonan berurutan /rdk/.

Lantas, antara standarisasi dan standardisasi, manakah yang benar? Berkaitan dengan hal ini, Badudu menjelaskan bahwa kata itu dipungut dari bahasa Inggris, yaitu standardization. Dalam bahasa Indonesia, tion pada akhir kata Inggris menjadi –si. Hal ini terjadi karena banyak kata yang telah diserap dahulu dari bahasa Belanda yang berakhir dengan –tie (ucapannya /si/ dan sama dengan –tion dalam bahasa Inggris). Bahasa Belanda untuk kata itu standaardisatie. Bunyi /z/ dalam bahasa Inggris, yang dalam bahasa Belanda /s/ dijadikan /s/ dalam bahasa Indonesia. Yang lain tidak diubah karena prinsip yang dipegang adalah sedekat mungkin kepada ejaan bahasa asalnya sehingga hasilnya adalah standardisasi.

Bahasa Indonesia juga tidak memungut kata standard saja yang kemudian dijadikan standar, kemudian pada kata ini ditambahkan –isasi. Bahasa Indonesia memungut secara utuh dari bahasa Inggris, yaitu standard menjadi standar, dan Standardization menjadi standardisasi.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas dapatlah dibuhul bahwa standardisasi merupakan bentuk yang baku, bukan standarisasi karena diserap secara utuh dari bahasa Inggris, yaitu Standardization.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s