Rom, Takat, Geulawa

Si Gam dan si Yông bersembunyi di balik semak-semak. Mata mereka “mengintai” pohon mangga di halaman belakang rumah orang. Pohon itu berbuah lebat. Saking lebatnya, sebagian buah mangga itu tumbuh melewati pagar rumah pemiliknya.

Gam, ujoe kakalön boh mangga nyan. Oma, ubé-bé raya. Nyan yang blahnoe pageu ka rap masak sang. Ka-rom lé kah ju. Lôn tukang piléh. Meunyoe han ék ka-rom, ka-takat mantöng,” kata si Yông. “Hana ék ku-rom lôn. Ku-geulawa mantöng jeut? Meunyoe ku-rom, keunöng rumoh gop, meunyoe kutakat peue lom,” bantah si Gam. “Jeut cit. Galak-galak kah mantöng meunyoe meunan,” lanjut si Yông lagi.

Ada apa sebenarnya? Mengapa si Gam mempermasalahkan rom, takat, dan geulawa. Mengapa pula si Gam lebih memilih geulawa buah mangga daripada rom atau takat.

Dalam bahasa Indonesia, ketiga kata itu sama sekali tak berbeda jika diartikan, yaitu melempar. Namun tak dapat dinafikan bahwa memaknai rom, takat, dan geulawa tak cukup hanya mengandalkan artinya dalam bahasa Indonesia. Dikatakan demikian karena memang kata-kata itu berbeda pemakaian, objek, dan sasarannya. Itulah sebabnya si Gam dan si Yông berselisih paham.

Rom memang dapat diartikan melempar. Hanya saja, objek yang digunakan untuk melakukan tindakan rom adalah selain kayu, misalnya batu. Penggunaan batu untuk rom karena kekuatan yang dihasilkan oleh rom lebih besar dan berefek pada cedera. Sasaran rom meliputi manusia, binatang, dan tanaman-tanaman berbuah. Itulah sebabnya, karena kekuatan dan efek rom lebih besar, si Gam tak mau melakukan aksi rom buah mangga tetangga itu.

Berbeda dengan rom, takat lebih umum jika dilihat dari penggunaan objeknya. Maknanya, untuk melakukan tindakan takat, benda apa saja dapat digunakan, tak hanya terbatas pada batu. Memukul seseorang dengan meninju atau menyepak juga termasuk takat. Ini terlihat dalam kali­mat berikut, “Han ék kupiké lé lôn. Siat-at jikheun keu lôn. Palak kutakat teuk bak ulèe. Meu’a-‘a jiklik”. Selain itu, takat juga dapat menggunakan kata-kata, misalnya dalam kali­mat, “Meunyoe hana jeut ka-beut, katakat laju ubé-bé jeut. Meski umum, kekuatan dan efeknya jauh lebih parah tinimbang rom.

Ada pula geulawa. Kata ini lebih spesifik karena objek dan sasaran pemakaiannya yang tak bisa serampangan. Objek yang digunakan untuk aksi geulawa hanya kayu. Sasarannya pun terbatas pada binatang dan pohon-pohon besar (yang berbuah), bukan manusia. Penggunaan dalam kali­mat misalnya, “Lôn ban lheuh kugeulawa bukrèh nyan. Meunyoe hana tageulawa, jikap ureung” Meski dalam kalimat ini kata ku-geulawa tak diikuti oleh kayèe, objek yang digunakan sudah tentu kayèe, bukan batèe.

Kekuatan serta efek yang dihasilkan oleh aksi geulawa juga tak separah rom dan takat. Itu sebabnya si Gam lebih memilih geulawa daripada rom atau takat.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s