Tam Tum, Bam Bum, Geudeubam-Geudeubum

 

 

“Baro bak lôn jak meu’èn ngön honda, na kejadian ureung meupök moto ngön keubeu. Cukôp ngeri. Watèe nyan dilèwat saboh keubeu raya. Prak pruk prak pruk su jijak keubeu nyan bak jalan. Seulô that jijak. Lewat teuk moto saboh. Teuga that jibalap moto nyan. Meucr’eu-cr’eu jiplueng. Geudeub’am jipök keubeu, gr’u gr’u gr’u meubalék moto, ‘sy’iiiiiiii meuputa-puta moto, t’am jipök bak kayèe. Meucr’a-cr’a dipö darah keubeu. Ureung lam moto teubape u lua, ret ateuh jalan, pruk patah gaki. ‘Oh takalon darah meuhambô bak jalan.”

Penggalan narasi berbahasa Aceh di atas membahas ihwal ditabraknya kerbau oleh sebuah mobil. Pada narasi itu, perhatikan bentuk yang bercetak tebal. Bentuk-bentuk itu tak punya arti. Jadi, Anda tak perlu repot-repot mencari arti kata-kata tersebut dalam kamus bahasa Aceh.

Secara kebahasaan, kata-kata yang bercetak tebal itu sederhananya disebut tiruan bunyi (onomatope). Tiruan bunyi berarti bunyi-bunyi dalam bentuk bahasa dan “kopian” hasil pendengaran manusia.

Dalam bahasa Aceh, tiruan bunyi sangatlah produktif. Artinya, kata-kata dalam bentuk tiruan dalam bahasa Aceh jumlahnya tidak terbatas. Dikatakan demikian karena siapa pun dapat menciptakan kata-kata tiruan bunyi berdasarkan apa yang telah didengarnya.

Sebut saja misalnya minyeuk pr’et. Kata ini berarti ‘minyak wangi’. Pr’èt pada kata itu adalah tiruan bunyi dari tombol minyak wangi yang apabila ditekan, menurut pendengaran sebagian masyarakat Aceh, bunyinya pr’èt, pr’èt, pr’êt.

Ada pula kata ph’èh ph’oh. Kata ini digunakan pada orang yang sering bersin dan batuk-batuk. Selain itu, juga ada kata ‘a dan‘a-a’. ‘a sering dipakai untuk orang menangis, misalnya dalam kali­mat, “Han ék kutheun lé, meukutampa teuk, ‘a jiklik (Tak sanggup tahan lagi, dia pun kutampar, lalu berteriak).

Lalu, ‘a-‘a juga tiruan bunyi yang dipakai untuk mendeksripsikan orang menangis. Hanya saja, tiruan bunyi jenis ini berbentuk kata ulang dan cenderung tak dapat berdiri sendiri dalam suatu kali­mat. Penggunaanya sering dipadukan dengan imbuhan meu- sehingga menjadi meu‘a-‘a. Hal ini dapat dilihat dalam kali­mat, “Aneuk nyan ka dari meunoe meu’a-‘a jiranggông (Anak itu sudah dari tadi menangis).”

Selain tiruan-tiruan bunyi yang disebutkan di atas, tercatat ada ribuan tiruan bunyi lain dalam bahasa Aceh yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam tulisan ini. Beberapa contoh lain yang dapat disebutkan di sini, misalnya ‘uk ‘uk ‘uk ‘uk, ph’èh ph’èh, br’oh, cr’eu, geudeubak geudeubuk, bak buk, krup, p’am, krèk krok, krèh kroh, sèh soh, ak-uk.

Apa sebenarnya kegunaan tiruan bunyi itu dalam bahasa Aceh?

Jika ditilik dengan saksama, sebenarnya ada banyak kegunaan tiruan bunyi itu. Salah satunya adalah untuk menciptakan efek menariknya sebuah cerita. Dengan kata lain, tiruan bunyi yang digunakan dalam sebuah cerita menimbulkan kesan ‘seru dan berdarah-darahnya’ suatu kejadian. Tanpa tiruan bunyi, narasi yang disampaikan terasa hambar, kurang menggigit, dan kaku.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s