Tu’a-Tu’a Bak Bano

CIMG0085Aceh provinsi multibahasa. Selain bahasa Aceh, di negeri Serambi Mekah ini, tersimpan banyak bahasa daerah lainnya. Sebut saja salah satunya adalah bahasa Devayan. Bahasa ini digunakan di Kabupaten Simeulue, dan menurut hasil penelitian *Monita (2012) dalam yang berjudul “Idiom dalam Bahasa Devayan”, Devayan bahasa yang lebih dominan digunakan di Simeulue.

Lebih lanjut, Monita menjelaskan, selain Devayan, bahasa yang juga ada di Simeulue adalah Sigulai dan Jamee. Devayan dan Sigulai disebut oleh Monita meru­pakan bahasa khas kabupaten ini.

Devayan, seperti halnya bahasa daerah lain di Aceh, punya keunikan tersendiri. Salah satunya dari segi idiom. Idiom adalah kata atau rangkaian kata yang maknanya menyimpang dari sebenarnya (bukan makna aslinya). Ada begitu banyak idiom dalam bahasa Devayan ini. Sebut saja di antaranya malabet, mansinadek, inabek, tu’a-tu’a bak bano.

Malabet berarti ‘menyangkut’. Idiom ini bermakna ‘menikah dengan adik ipar’. Malabet termasuk kata kerja. Penggunaan malabet dapat dilihat dalam kali­mat seperti ini, Karano faeng lafe-nea nida malabet alek adek lafe-nea (Karena istrinya sudah meninggal, dia mau menikah dengan adik perempuan istrinya). Dalam idiom bahasa Indonesia, malabet sama dengan idiom berganti lapik.

Selanjutnya ada juga mansinadek yang berarti ‘saling pangku’. Meski artinya demikian, maknanya adalah hamil. Monita (2012) menjelaskan, idiom ini ditujukan kepada perempuan yang sedang mengandung, dan meru­pakan ungkapan penghormatan bagi perempuan yang sedang hamil. Perempuan hamil disebut mansinadek apabila proses kehamilannya secara baik-baik (tak hamil di luar nikah). Dalam kali­mat penggunaan mansinadek, misalnya Lafe-nea   tengia mansinadek ang duo bulan (Istrinya sedang hamil 2 bulan).

Ada pula idiom dalam bahasa Devayan yang digunakan masyarakat dalam momen-momen tertentu, seperti ketika menjenguk anak yang baru lahir, menjenguk orang yang sedang sakit, acara pesta pernikahan. Idiom itu adalah inabek, artinya ‘diambil’. Inabek meru­pakan idiom yang bermakna oleh-oleh. Dalam kali­mat, inabek digunakan seperti berikut ini, Sakilo gulo, satampen kopi, in-abek o me-mangenak anak daya (Satu kilogram gula  dan satu bungkus kopi, oleh-oleh saya untuk anaknya).

Untuk menyebut perawan/perjaka tua, Devayan punya idiom tu’a-tu’a bak bano, yang ditujukan untuk orang yang lama atau tidak mendapatkan jodoh dalam hidupnya. Ini terlihat jelas dalam kali­mat berikut ini, Kalau aduon o hawel-hawel manjadi o tu’a-tu’a bak bano (Kalau kamu tidak menikah juga, bisa jadi perawan tua).

*Maklumat: substansi berupa data kebahasaan dan beberapa redaksi kali­mat dalam tulisan ini sepenuhnya dikutip dari hasil penelitian Asma Monita (2012), “Idiom dalam Bahasa Devayan”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s