Atra

Atra, begitulah nama majalah ini. Bukan singkatan ataupun akronim, kata tersebut asli dari bahasa Aceh.

Atra memiliki beberapa arti. Atra dapat berarti milik atau kepunyaan. Biasanya, atra jenis ini berdampingan dengan kata ganti orang seperti lôn, gata, jih. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat seperti, Nyoe kupiah gata, nyan atralôn (Ini peci Anda, itu milik/kepunyaan saya), atau kalimat lain misalnya, Majalah ATRA nyoe atra rakan-rakan bak portalsatu.com, kön atra ureung laen.

Selain berarti milik, atra dapat pula berarti hal, persoalan. Berbeda dengan atra yang bermakna milik, atra jenis kedua ini sering tak berdampingan dengan kata ganti orang, misalnya dalam kalimat Atra nyan hana peu tabahas lé (hal itu tak perlu dibahas lagi).

Bukan hanya milik dan hal yang menjadi makna atra. Dalam pemakaian sehari-hari, sering pula kita temukan kata tersebut menjadi kata tanya. Atra yang menjadi kata tanya ini bermakna bukankah. Meski merupakan kata tanya, atra bila dipakai dalam kalimat cenderung membentuk kalimat tanya retorik, yaitu kalimat yang tidak memerlukan jawaban.

Atra yang bermakna bukankah sering dipakai untuk mempertegas sesuatu. Penegasan itu untuk meyakinkan orang lain bahwa yang ia katakan benar. Buktinya, lihat saja kalimat ini, Atra ka lôn peugah buno, pakon h’an tapatéh (bukankah sudah saya katakan tadi, mengapa Anda tidak mau mempercayainya). Penegasan seperti dalam kalimat bahasa Aceh yang pertama ini dapat pula dilihat dalam kalimat seperti, Pakri h’an lôn cok, atra ka geubi keu lôn (bagaimana tidak saya ambil, bukankah ia telah memberikannya kepada saya).

Selain atra, dalam pemakaian bahasa Aceh sehari-hari ditemukan pula kata atah dan ata. Bila dilihat dari segi sebaran wilayah pemakaiannya, atra umumnya dipakai oleh masyarakat Aceh wilayah timur, termasuk sebagian Banda Aceh. Adapun atah dan ata umumnya dipakai oleh sebagian masyarakat wilayah barat dan selatan.

Sebagai catatan, saya mengatakan “umumnya” karena ada sebagian masyarakat wilayah timur menggunakan ata atau atah. Begitu pula kemungkinan ada sebagian masyarakat Aceh wilayah barat-selatan menggunakan atra.

Adanya perbedaan pelafalan seperti itu lebih tepatnya disebut sebagai dialek. Dialek adalah variasi sebuah bahasa dalam sebuah lingkungan masyarakat. Pertanyaannya adalah mengapa bisa muncul kata yang maknanya sama, tetapi berbeda pelafalan seperti atra, ata, dan atah itu?

Peter Trudgil dalam bukunya Sociolinguistics an Introduction menyatakan, batasan sosial (sosial barries) dan jarak sosial (social distance) menjadi penyebab terjadinya perbedaan pelafalan (dialek). Perkembangan fitur-fitur kebahasaan antar-anggota masyarakat terhalang oleh adanya batasan-batasan berupa kelas sosial, usia, ras, agama, dan faktor lain. Jarak sosial sebagaimana batasan sosial membatasi perkembangan fitur-fitur kebahasaan, dan bersifat sama seperti jarak geografis, yaitu semakin jauh tingkat sosial semakin jauh perbedaan fitur-fitur kebahasaannya.

Penyebab lain timbulnya perbedaan pelafalan (dialek-dialek yang beraneka ragam) adalah adanya kecenderungan bahwa kaum elite (kelas atas) cenderung ingin membedakan diri mereka dengan kalangan non-elit, “Dominant social groups tend to mark themselves off symbolically as distinct from the group they dominate and to interpret their symbols of distinctiveness as evidence of superior moral and intellectual qualities” (Douglas Biber dan Edward Finegan dalam buku Sociolinguistic Perspectives on Register).

Selain dua variasi pelafalan atra seperti yang disebutkan di atas, kata yang maknanya hampir sama dengan atra adalah atok. Belum diketahui apakah ini kosakata asli bahasa Aceh atau bukan. Yang jelas, kata ini sering digunakan dalam kalimat bahasa Aceh, misalnya Buku nyan atôklôn, kon atôkkah (buku itu milik saya, bukan milikmu).

Atôk merupakan kata yang maknanya hampir sama dengan atra, ata, atah. Akan tetapi, atôk tak dapat menjadi kata tanya yang bermakna bukankah, seperti atra. Jadi, atôk dapat digunakan dalam kalimat seperti, *Atôk ka lôn peugah buno, pakon h’an tapatéh (bukankah sudah saya katakan tadi, mengapa Anda tidak mau mempercayainya).

Berkaitan dengan wilayah pemakaian atôk ini, saya belum mengetahui pasti. Dugaan awal saya, kata ini hanya dipakai di wilayah barat-selatan.

Akhirnya, saya ucapkan, teurimong gaséh ka neubaca majalah ATRA. Majalah nyoe atra geutanyoe. Meunyoe na atra droe, keupeu lom atra gop. Sekian.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s