Orang Baik di Sekitar Kita

SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN

“Orang baik sudah langka sekarang”. Sepertinya kalimat ini ada benarnya juga. Apa rentang atau kriteria untuk menyebut seseorang baik. Tentu saja tak ada patokan khusus. Paling tidak, yang patut dan layak menjadi alat ukur untuk menentukan kriteria adalah diri kita sendiri.

Pada dasarnya penentuan dengan cara seperti itu terlalu subjektif dan lebih mengarah ke opini. Namun pasti di antara kriteria-kriteria yang subjektif itu ada kriteria yang global, yang diakui oleh semua orang.

Apakah dalam hidup ini Anda pernah mengalami kesulitan ekonomi? Kala kesulitan tersebut melanda, kita tak tahu harus bagaimana. Hati berkecamuk dan pikiran senang tiba-tiba kusut memikirkan cara mengatasi kesulitan itu. Otak berpikir keras mencari solusi-solusi yang mungkin dapat dipakai agar kesulitan segera sirna.

Di saat kesulitan ekonomi melanda, saya yakin solusi yang sempat terlintas di benak Anda adalah mencari pinjaman kepada saudara, kerabat dekat, teman, atau orang yang sudah bertahun-tahun kita klaim sebagai sahabat terbaik (best of the best). Belum pun sempat meminjam, melainkan masih menghayal untuk meminjam, kita sempat berpikir bahwa di antara orang-orang yang telah masuk ke dalam list tempat meminjam, pasti salah satu di antara mereka atau mereka semua bersedia memberikan pinjaman kepada kita.

Perlahan, meski masih dalam tahap menghayal, pikiran yang kusut masai karena terlilit kesulitan ekonomi seketika berubah menjadi sinar yang menerangi alam pikiran, yang membuat kita bergairah lagi menghadapi hidup.

Namun, apa hendak dikata, semua yang kita pikirkan dan hayalkan dengan baik, tak selamanya baik dan indah dalam kenyataan. Saudara, kerabat dekat, teman, atau orang yang sudah bertahun-tahun kita klaim sebagai sahabat terbaik, tak ada yang mampu menjadi malaikat penolong bagi kita. Mendadak hati yang senang dan pikiran yang terang benderang tadi berubah galau, kusut, dan gelap kembali. Kegalauan, kekusutan, dan kegelapan semakin menjadi-jadi manakala mendengar alasan mereka, yang menurut pikiran kita yang lagi galau, tak logis.

Saudara kita beralasan tak dapat memberikan pinjaman karena sudah dipakai untuk berbagai keperluan. Lain pula dengan kerabat dekat. Ia tak memberikan pinjaman karena memang benar-benar tak punya. Ada lagi teman yang kita kenal selama ini. Alasannya pun berbeda. Katanya ia tak punya uang karena sudah dikirimkan ke kampung. Alasan yang dikatakan oleh sahabat kita pun tak jauh berbeda dengan orang-orang sebelumnya.

Dalam situasi seperti itu, lagi-lagi pikiran semakin kacau dan galau stadium empat. Kegalauan semakian kronis manakala ada orang yang menagih pinjaman yang belum sempat terbayar. Di saat itu, seperti tak ada lagi harapan selain hanya pada Allah semata. Setiap duduk, berdiri, tidur, dan salat, bibir tak henti-hentinya berdoa memohon bantuan Allah walau kadangkala doa tak pernah dilantunkan mana kala si pendoa dalam keadaan senang belaka. Ibarat kata hadihmaja Aceh, “Seumayang wajéb uroe Jum’at, seumayang sunat uroe raya, meudo’a watèe cirét, meuratép watèe geumpa.

Sungguh Allah Maha Mendengar. Ia memahami dan mengabulkan permintaan hamba-Nya yang sedang terjerat kemelut ekonomi. Di saat itu hadir seseorang yang bukan saudara, bukan kerabat, bukan teman, bukan pula sahabat. Meski seangkatan, ia adalah orang yang jarang kita ajak berkomunikasi. Kehadirannya acapkali kita anggap sebagai momok yang menakutkan. Ia tiba-tiba hadir laksana pahlawan di medan prang, atau laksana superhero. Tampilannya pun biasa-biasa saja, cakapnya juga tak muluk-muluk. Yang diutarakan hanya yang perlu saja. Ia tiba-tiba hadir menanyakan mengapa, ada apa, ada masalah apa, ada yang bisa saya bantu, jangan murung karena murung tak baik, dll.

Barangkali sejenak kita emoh mengutarakan kesulitan ekonomi yang sedang melilit. Namun karena perasaan sedih tak terbendung lagi dan tak tahu harus bercerita pada siapa, akhirnya kita meluapkan semunya pada orang yang selama ini tak begitu kita anggap sahabat, kerabat, atau saudara.

“O, itu. Tenang saja, sama saya ada. Pakai saja dulu, ndak apa-apa.” Buar! Sebuah harapan tiba-tiba bertumpu pada orang itu. Betapa tidak, ia secara suka rela bersedia membantu. Seketika beban yang selama ini begitu berat laksana batu, menjadi ringan. Semuanya seolah teratasi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Pinjaman sudah didapat, kesulitan ekonomi telah teratasi. Orang yang semula  kita anggap biasa-biasa saja ternyata adalah orang baik, perpanjangtanganan Tuhan, hasil dari doa.

Namun, ada sesuatu yang tak sempat terutarakan dan memang sengaja tak diutarakan oleh orang ini, yaitu kesulitan ekonomi yang sebenarnya juga ia derita. Ia sebenarnya mengalami kesulitan ekonomi yang luar biasa parah, tetapi memilih menolong orang lain yang kesusahan.

Dia juga memilih tak menyampaikan kesulitan ekonominya. Ia juga lebih memilih tersenyum dengan ikhlas walau di balik senyum itu tersimpan guratan luka hati dan perasaan karena kesulitan ekonomi yang ia derita. Dengan kata lain, ia memilih bungkam.

Nah, adakah orang seperti ini di sekitar Anda? Kalau ada, saya yakin kita sepakat melakapkannya dengan sebutan orang baik. Ini satu kriteria yang menurut saya subjektif, tetapi berlaku standar di seantero negeri ini.

Lantas apa kriteria yang lain? Tunggu postingan selanjutnya. Salam!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s