[Safriandi]

Judul di atas merupakan haba indatu yang ditujukan pada tingkah polah manusia. Apa sebenarnya maksud di keu bèe bu, di likôt bèe èk?

Pernahkah Anda temukan dalam kehidupan sehari-hari orang yang ‘bermanis’ kata dan bertingkah laku baik di depan Anda, tetapi berbalik menyerang dan menjelek-jelekkan ketika sudah tak sekawan lagi? Mungkin pula Anda pernah mendapati orang yang selalu memuji Anda saat ia masih bersahabat dengan Anda, tetapi berbalik menghujat dan ‘menusuk’ Anda dari belakang ketika telah retak hubungan Anda dengan dia?

Jika Anda menemukan orang dengan ciri seperti yang saya sebutkan di atas, berarti orang itu termasuk dalam hadih maja indatu kita, yaitu di keu bèe bu, di likôt bèe èk. Lantas mengapa muncul tamsilan seperti ini? Mengapa sifat seperti yang saya sebutkan di atas menggunakan bèe bu dan bèe èk sebagai tamsilan?

Bèe bu atau bau nasi merupakan bau yang dapat dikatakan wangi. Bau ini dapat tercium ketika nasi sedang ditanak melalui uap yang mengepul. Bukan hanya dari segi wangi, bu juga lambang kesejahteraan.

Berbeda dengan bèe èk. Jenis bau ini begitu menyengat menusuk hidung. Tak jarang pula orang yang tak sengaja mencium akan muntah seketika. Lantas, jenis èk yang bagaimana yang dimaksud dalam hadih maja itu. Saya tak tahu persis jenis bau èk yang mana. Namun asumsi saya, jenisnya adalah bau kotoran manusia. Saya katakan demikian karena bau ini berkaitan erat dengan bu. Bukankah seseorang yang makan, akhirnya akan menghasilkan kotoran juga.

Lantas apa kaitan hadih maja di keu bèe bu, di likôt bèe èk dengan orang yang punya sifat ‘bermanis’ kata dan bertingkah laku baik di depan Anda, tetapi berbalik menyerang dan menjelek-jelekkan ketika sudah tak sekawan lagi? Jawabannya cukup jelas.

Bu yang baunya wangi diibaratkan untuk orang bertutur kata lembut, bersikap sopan saat ia berhadap-hadapan dengan kawannya. Terkadang karena sifatnya itu kita terbuai dan terjebak dalam kondisi yang mengantarkan kita pada suatu pandangan bahwa ia adalah teman sejati, teman yang hubungannya tak lekang dan tak lapuk dimakan waktu. Sifatnya itu juga membuat kita lupa bahwa ia juga manusia, yang suatu saat akan menjadi lawan.

Èk yang baunya menyengat ditamsilkan untuk orang yang awalnya bertutur kata sopan dan bertingkah lembut di hadapan kita, tiba-tiba 180 derajat berbalik arah menyerang habis-habisan. Kita yang dulunya dipuji-puji, lantas dicaci maki karena kebenciannya yang mendalam. Tak cukup hanya itu, ia juga menebar fitnah yang membabi buta. Kita yang awalnya dipandang baik oleh dia, lalu mengubah pandangannya. Ia seolah melihat kita tak lebih seperti sampah anyir. Tak jelas mengapa ia membenci, padahal tak satu kata makian pun yang dilontarkan kepadanya oleh orang yang menjadi sasaran makian. Tingkah polahnya tak cukup sampai di situ. Ia juga merangkul massa, mengumbar aib mantan kawannya itu di depan khalayak.

Orang yang punya sifat seperti tersebut dalam hadih maja itu tergolong orang-orang munafik yang mengidap penyakit hati kronis. Ini karena sifatnya itu sudah meudarah gapah dalam dirinya. Pengobatannya pun adalah pengobatan level tinggi. Sangat kecil kemungkinan sembuh.

Manusia yang berperangai seperti tersebut dalam hadih maja itu ibarat orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri karena aib yang ia tebarkan pada orang lain. Meski bangkai saudaranya sendiri, baginya bangkai yang ia makan itu merupakan makanan nikmat dan lezat yang tak ternilai harganya. Tak sedikit pun ia merasa bersalah karena sifatnya itu. Baginya memakan bangkai saudaranya merupakan suatu kebanggaan yang tak terperikan.

Memang sepintas, dampak sifat ini terhadap orang lain biasa-biasa saja. Namun, jika ingin jujur, sebenarnya dampak negatif yang ditimbulkan oleh orang-orang yang di keu bèe bu, di likôt bèe èk begitu besar. Setiap kata yang ia ucapkan mampu memantik suasana dingin berubah mencekam. Tak hanya itu, hubungan langgeng antarsesama berubah menjadi hubungan tragis dan amat menakutkan. Pertumpahan darah pun acapkali tak terelekkan.

Ketahuilah bahwa orang yang berperangai buruk seperti tersebut dalam hadih maja itu sejatinya mengundang bala untuk dirinya sendiri. Kata-kata fitnah, cacian, makian, dan ejeken yang pernah ia lontarkan untuk orang lain berbalik menjadi boomerang untuk dirinya. Ia dibenci oleh semua orang.

Manusia seperti itu suatu saat juga akan dihantam badai kemunafikan dan fitnah yang menyeretnya ke lubang kehancuran. Tuhan pun akan membuka aibnya sendiri di depan khalayak dan keluargany sehingga jadilah ia umpama manusia yang nista dan hina di mata manusia dan Tuhan. Maka, ketika itulah timbul penyesalan mendalam. Namun apa daya, ia sudah kepalang basah tercebur ke kubangan hitam.

Mari berharap dan memohon pada-Nya agar kelak kita dan keturunan kita tak dihinggapi penyakit seperti ini. Ketahuilah bahwa memilikinya adalah suatu kehinaan.

Maaf, tulisan saya ini tak bermaksud menggurui siapa pun, dan tidak saya tujukan untuk siapa pun. Ini hanya introspeksi untuk saya sendiri. Semoga kita dijauhkan dari sifat bejat ini. Terima kasih sudah bersedia membaca tulisan ini.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s