Nama-Nama Bulan dalam Bahasa Aceh

Safriandi, S.Pd., M.Pd.

[Tabloid The Atjeh Times, 29 Juli s.d. 4 Agustus 2013]

Anda sudah pasti tak asing lagi dengan nama-nama bulan dalam kalender Masehi, yaitu Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Tentu saja nama bulan-bulan itu diingat semua orang karena di setiap bulan itulah para pegawai negeri sipil atau karyawan-karyawan menerima rupiah, hasil jerih payah selama sebulan.

Selain bulan-bulan Masehi, ada pula bulan-bulan Hijriah, yaitu Muharam, Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijjah. Nama ini mungkin tak semuanya menghafal karena bulan ini fungsinya tak seperti nama-nama bulan Masehi yang dipakai untuk membayar gaji.

Beberapa bahasa daerah di Indonesia juga memiliki perbendaharaan kosakata  mengenai nama-nama bulan. Sebut saja misalnya bahasa Jawa. Dalam bahasa ini ada nama-nama bulan, yaitu Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulut, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, (Arwah, Saban), Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan), Sawal, Sela (Dulkangidah, Apit), Besar (Dulkahijjah).

Sebagian nama bulan dalam bahasa Jawa itu diambil dari kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, tetapi beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta seperti Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Adapun nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu (http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Jawa).

Bahasa Aceh ternyata juga punya koleksi nama bulan. Seperti bahasa Jawa, nama-nama bulan dalam bahasa Aceh juga berasal dari beberapa bahasa, salah satunya bahasa Aceh itu sendiri.

Selengkapnya nama-nama bulan dalam bahasa Aceh adalah Asan-Usén (Muharam), Sapha (Safar), Moklet (Rabiul Awal), Adoe Moklet (Rabiul Akhir), Moklet Seuneulheuh (Jumadilawal), Kanduri Boh Kayèe (Jumadilakhir), Kanduri Apam (Rajab), Kanduri Bu (Syakban), Puasa (Ramadan), Uroe Raya (Syawal), Meuapét, Beurapét (Zulkaidah), Haji (Zulhijjah).

Pemberian nama-nama bulan dalam bahasa Aceh itu tentu saja ada sebab-musababnya. Muharam disebut buleun Asan-Usén karena ada peringatan Hasan dan Husain pada 10 Muharam. Lalu bulan Safar disebut Sapha karena penyesuaian bunyi dalam bahasa Aceh. Dalam tuturan, umumnya orang Aceh akan mengubah kata-kata yang berbunyi /f/ menjadi /p/ atau /ph/, misalnya safari menjadi sapari dalam bahasa Aceh, Mustafa menjadi Tapha.

Selanjutnya, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadilawal disebut Moklet, Adoe Moklet, Moklet Seuneulheuh karena di bulan-bulan inilah diperingati hari lahir Nabi Muhammad saw. Khusus Jumadilawal, ada yang menyebut buleun Madika Phôn, ada pula yang menyebut Bungong Kayèe.

Berkaitan dengan buleun Meuapét atau Beurapét, nama ini hampir sama dengan nama bulan dalam bahasa Melayu, Jawa, dan Sunda. []

[http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/07/29/60918/437/3/Nama-nama-bulan-dalam-Bahasa-Aceh]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s