‘Menyontek’ Itu Kata Baku

Safriandi, S.Pd., M.Pd.
[Serambi Indonesia, 21 Juli 2013]

EditSejak SD saya punya pemahaman yang sudah mengakar dan mendarah daging mengenai ketidakbakuan kata menyontek. Ini karena seingat saya ketika belajar Bahasa Indonesia dulu, guru Bahasa Indonesia saya mengajarkan, menyontek bukan kata baku. Pemahaman itu kian kentara manakala saya membaca tulisan-tulisan teraktual yang memvonis bahwa kata menyontek memang bukan kata baku. Konon lagi vonis itu dilontarkan oleh para akademisi yang bergelut di bidang Bahasa Indonesia.

Alasan vonis pun sama sekali tak didukung referensi kuat. Paling-paling sebatas mengatakan bahwa dalam bahasa Indonesia tidak ada kata menyontek, yang ada hanya contoh, bukan contek. Alasan ini pun membingungkan dan tentu saja menyesatkan saya dalam konsep yang salah. Ini karena saya menilai sama sekali tak ada hubungan sebab-akibat antara menyontek dan contek, atau dalam istilah kebahasaannya tak ada relasi morfofonemik.

Suatu ketika saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III, 2005, Pusat Bahasa, Depdiknas. Kamus ini memang sudah menjadi ‘santapan’ sehari-hari karena profesi saya sebagai redaktur bahasa di salah satu media lokal di Aceh. Kala itu saya penasaran, apa benar kata menyontek dalam bahasa Indonesia tidak baku? Berbekal penasaran, saya lalu membuka lembaran KBBI itu, terutama lembaran dengan abjad C dan S.

Lembaran dengan abjad C pun saya buka. Setiap entri, lema, dan sublema di situ saya selisik untuk mencari kata contek. Hasilnya, saya menemukan kata contek di halaman 219. Namun sayang, kata ini tak punya arti. Di halaman itu, contek merujuk (—–>) ke sontek. Ini indikasi bahwa contek tidak ada dalam bahasa Indonesia. Maka, saya membuhul, contek memang tak baku.

Saya kemudian menyelisik kata sontek dalam lembaran S di halaman 1084. Sama halnya dengan abjad C, saya mencermati dengan saksama setiap entri, lema, dan sublema. Di sini ada sontek. Di lembaran itu sontek punya dua arti (dalam istilah bahasa disebut homonim). Pertama, sontek berarti menggocoh (dengan sentuhan ringan); mencungkil (bola dsb.) dengan ujung kaki. Dari sini, ada kata menyontek dan sontekan. Sontekan artinya hasil menyontek. Kedua, sontek berarti mengutip (tulisan dsb.) sebagaimana aslinya; menjiplak. Di sini juga ada kata menyontek dan sontekan. Sontekan berarti hasil menyontek; bahan (tulisan) yang disontek.

Seolah tak percaya, saya menyelisik dan mencermati ulang dengan penuh saksama kata sontek yang ada dalam KBBI Pusat Bahasa ini. Hasilnya, tentu saja ada kata sontek dalam bahasa Indonesia. Temuan ini membuat saya sedikit goyah dengan pemahaman selama ini tentang ketidakbakuan kata menyontek.

Saya lalu membuka KBBI online milik Pusat Bahasa di laman http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. Pangkalan data KBBI online ini daringnya diambil dari KBBI edisi III. Baik di KBBI versi cetak maupun online, ada kata sontek dengan sublema menyontek dan sontekan.

Di KBBI Pusat Bahasa online ini juga ada contek, tetapi diikuti tanda tanya (?).Tanda tanya yang dipakai dalam kamus pada sebuah kata tujuannya untuk menjelaskan kata itu tidak baku.

Berdasarkan penelusuran saya terhadap KBBI edisi III Pusat Bahasa dan KBBI Pusat Bahasa online, menyontek kata baku dengan bentuk dasar sontek, bukan contek. Menyontek artinya mengutip (tulisan dsb.) sebagaimana aslinya. Ini juga berarti, salah besar jika ada yang mengatakan tidak ada kata ‘menyontek’ dalam bahasa Indonesia, dan keliru pula jika ada yang mengatakan menyontek tidak baku.

Analisisnya adalah sebagai berikut. Ada kata menyontek dengan kata dasar sontek. Mengapa sontek menjadi menyontek? Ini tentu saja karena kaidah pembentukan katanya: meN- menjadi meny- apabila dilekatkan pada kata yang diawali bunyi /s/. Nah, dari analisis ini, dapat dikatakan, tidak ada contek dalam bahasa Indonesia baku.

Lantas mengapa ada yang mengatakan menyontek tidak baku? Dugaan saya karena ia menyamakan ketidakbakuan menyontek dengan menyontoh, padahal kata dasar keduanya berbeda. Menyontek kata dasarnya sontek (dan ini baku), *menyontoh (dan ini tidak baku) kata dasarnya sebenarnya contoh, bukan *sontoh sehingga yang baku adalah mencontoh.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s