Seurunèe Su ‘I

The Atjeh Times, 15 s.d. 21 Juli 2013

oleh Safriandi, S.Pd., M.Pd.

481021_4086573970758_2061866339_nSaat jadwal berbuka puasa dan waktu imsak tiba, biasanya ada banyak tanda yang digunakan kaum muslimin. Di daerah-daerah tertentu, tibanya waktu berbuka puasa dan imsak ditandai oleh bunyi beduk. Di Aceh tibanya waktu itu ditandai oleh bunyi sirene. Sirene merupakan alat untuk menghasilkan bunyi yang mendengung keras.

Khusus di Banda Aceh, radio lokal menjadi tempat diputarnya sirene tersebut. Masjid-masjid di Kota Banda Aceh menjadikannya sebagai pedoman tibanya waktu berbuka puasa serta imsak, dan memperdengarkannya kepada warga. Tujuannya agar warga yang tidak mempunyai radio dapat mengetahui waktu berbuka puasa dan imsak.

Dalam bahasa Aceh, sirene sering dikenal dengan sebutan seurunèe. Kata ini menjadi ‘primadona’ bagi masyarakat Aceh di saat bulan Puasa, terutama detik-detik menjelang berbuka dan imsak.

Alah mak e, trép that imeusu seurunèe. Pruet ka meucr’o-cr’o lheuh. Pakön han jipeumeusu laju seurunèe bak mesjid nyan. Peue ka reulöh?” Begitu kira-kira serenteng kali­mat yang terlontar dari orang yang berpuasa.

Selain seurunèe, bahasa Aceh juga memiliki kosakata lain yang berpadanan dengan kata seurunèe, yaitu su ‘i. Kata ini tiruan bunyi dari seurunèe.

Penggunaan su ‘i sangat sering ditemukan dalam pertuturan orang Aceh saat puasa. “Peue ka su ‘i, peue galom lé?”

Pembentukan kata su ‘i dan seurunèe juga berbeda. Su ‘i terdiri dari dua kata, su ‘suara’ dan ‘i ‘tiruan bunyi seurunèe. Adapun seurunèe hanya terdiri dari satu kata, yaitu kata seurunèe itu sendiri. Namun, apabila dilihat dari segi jenis kata, kedua kata tersebut berjenis sama, yaitu kata benda.

Uniknya, su ‘i dapat dilekatkan imbuhan meu- sehingga menjadi meusu ‘i, dan tentu saja membentuk kata kerja. Gejala ini tentu saja tak sama dengan dengan seurunèe. Dengan kata lain, seurunèe tak dapat dilekatkan imbuhan meu- sehingga menjadi meuseurunèe. Oleh karena itu, tentu saja dalam bahasa Aceh tak ada orang yang menyebutkan, Ka jimeuseurunèe, ka jeut buka puasa.

Su ‘i apabila dilekatkan imbuhan meu- juga dapat diulang menjadi meusu ‘i-‘i, tetapi tak dapat diulang meusu ’i-meusu ’i. Dalam istilah kebahasaan, pengulangan seperti ini disebut pengulangan berimbuhan.  Begitu pula, tanpa pelekatan imbuhan meu-, su ‘i dapat diulang menjadi su ‘i-‘i. Akan tetapi, tak seperti su ‘i, kata seurunèe tak dapat diulang. Jadi, tidak ada kata seurunèe-seurunèe. Dalam pertuturan, orang Aceh hanya menggunakan seurunèe.

Dalam praktiknya, su ‘i  juga dapat digunakan tanpa kehadiran kata su sehingga menjadi ‘i. Jadi, selain ada su ‘i ada pula ‘i dalam bahasa Aceh yang juga merujuk pada seurunèe. Hal ini dapat dilihat dalam kali­mat seperti, Ka jeut buka puasa, ka ji-‘i di meulasah.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s