BANGAI

Safriandi A. Rosmanuddin

(The Atjeh Times, 24 s.d. 30 September 2012)

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang tidak punya pengetahuan tentang sesuatu atau sulit memahami sesuatu dengan cepat disebut bangai.Bagi orang Aceh, bangai banyak ragamnya. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa kemam­puan seseorang memahami sesuatu atau pengetahuan seseorang terha­dap sesuatu amatlah berbeda. Ada orang yang cepat connect memahami sesuatu, ada pula orang yang lambat connect-nya. Jadi, jika seseorang diketahui se­bagai orang yang bodoh, sangat bodoh, atau amat sangat bodoh sekali, orang Aceh tidak puas hanya dengan menyebut bangai. Bagi orang Aceh, orang yang “agak” lama memahami sesuatu disebut se­bagai orang yang bangai trôk u gu. Bangai jenis ini dapat dikatakan se­bagai bangai yang tidak terlalu parah. Hal ini karena si bangai masih dapat memahami sesuatu walau membutuhkan waktu yang “agak” lama.

 Karena bangai trôk u gu meru­pakan bangai yang tidak terlalu parah, ada jenis bangai lain yang lebih parah, yaitu bangai trôk u pucôk. Jenis bangai yang kedua ini setingkat lebih tinggi daripada jenis bangai  sebelumnya. Artinya, jika seseorang disebut bangai trôk u pucôk, orang itu lebih bangai daripada  si bangai trôk u gu. Dikatakan demikian karena pucôk lebih tinggi daripada gu dan dibutuhkan tenaga ekstra untuk mendapatkan si pucôk. Analoginya, orang yang bangai trôk u gu hanya membutuhkan waktu yang “agak” lama untuk memahami sesuatu, sedangkan orang yang bangai trôk u pucôk membutuhkan waktu yang “agak lebih” lama memahami sesuatu.

Namun demikian, bangai trôk u pucôk bukanlah akhir dari tingkatan parahnya bangai seseorang. Masih ada jenis bangai yang lebih parah daripada bangai trôk u pucôk. Sebagian orang Aceh menyebutnya bangai ‘alaihissalam. Menurut penuturan sebagian masyarakat penggunanya, bangai jenis ini meru­pakan bangai yang menempati posisi paling puncak. Tidak ada lagi jenis bangai setelah bangai ini. Jenis bangai ini tidak ada tandingannya. Bangai-nya laksana bangai trôk u krak atau bangai sibangai bangaijih. Jika sesuatu disampaikan pada orang yang memiliki jenis bangai ini, ia membutuhkan waktu yang “teramat, tersangat, terpaling” lama untuk memahaminya. Bahkan ada kemungkinan dia tidak paham sekali tentang sesuatu yang telah disampaikan padanya.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s