Keuniversalan Bahasa dalam Hal Penggunaan Preposisi dan Posposisi

Keuniversalan bahasa berkaitan dengan adanya kesamaan-kesamaan yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia, baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Salah satu kesamaan di bidang morfologi berkaitan dengan adanya preposisi dan posposisi. Berkaitan dengan uraian singkat tersebut, tulisan saya ini bermaksud ingin menjelaskan keuniversalan bahasa dalam hal penggunaan preposisi dan posposisi. Di dunia ini terdapat bahasa yang memiliki preposisi dan terdapat pula bahasa yang memiliki posposisi. Preposisi adalah partikel yang biasanya terletak di depan nomina dan menghubungkannya dengan kata lain dalam ikatan eksosentris, sedangkan posposisi adalah partikel yang biasanya terletak di belakang nomina dan menghubungkannya dengan kata lain dalam ikatan eksosentris (Kridalaksana, 2001: 176-177). Agar lebih jelasnya, perhatikanlah penggunaan preposisi dan posposisi pada beberapa bahasa berikut ini (kalimat 1 s.d 4 dikutip dari Song (2001) dan kalimat 5 dikutip dari Rodman dan Fromkin (1993) ).

(1)     Bahasa Niuean

To     fano  a        au     apogipogi ki Queen Street.

FUT pergi ABS  I                    tomorow  to Queen Street

‘Iam going to Queen Street tomorow.’

(2)     Bahasa Tzotzil

ʔi-s-pet                 lok’el   ʔantz    ti         t’ul-e            xchiʔuk s-malal

CMP-3-carry        away    woman            the      rabbit-CLT  with       3-husband

‘The rabbit carried away the woman with her husband.’

(3)     Yoruba

Bàbà   ra          bàtà   ní  ojà

father  bought shoes at  market

‘Father bought shoes at the market.

(4)     Canela-Krahó

Hūmre te      rop  cakwīn pur    kam.

man     PST  dog beat      field  in

‘The man beat the dog in the field.’

(5)     Jepang

Tokyo kara

Tokyo to

‘ke Tokyo’

Bahasa (1) s.d. (3) merupakan bahasa yang memiliki preposisi (tidak ada posposisi), sedangkan bahasa (4) dan (5) merupakan bahasa yang memiliki posposisi (tidak ada preposisi). Ki, xchiʔuk, dan pada bahasa (1) s.d. (3) merupakan preposisi karena masing-masing terletak di depan nomina Queen Street, s-malal, dan ojà, sedangkan kam dan kara merupakan posposisi karena keduanya terletak di belakang nomina pur dan Tokyo.

Dalam kajian tipologi bahasa disebutkan bahwa bahasa (1) merupakan bahasa yang memiliki susunan beruntun (word order) VSO, bahasa (2) memiliki susunan beruntun VOS, bahasa (3) memiliki susunan beruntun SVO, sedangkan bahasa (4) dan (5) memiliki susunan beruntun SOV. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah hubungan susunan beruntun dengan preposisi dan posposisi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, cermati kembali contoh di atas. Jika dicermati dengan saksama, bahasa-bahasa yang memiliki susunan beruntun VSO, VOS, dan SVO merupakan bahasa yang memiliki preposisi, sedangkan bahasa-bahasa yang berpola SOV merupakan bahasa yang berposposisi. Dengan kata lain, bahasa-bahasa yang verba inisialnya muncul pertama di dalam kalimat selalu ditemukan memiliki preposisi, sedangkan yang verbanya (bukan verba inisial) terletak di akhir selalu ditemukan memiliki posposisi. Tidak ada posposisi dalam bahasa yang memiliki susunan beruntun VSO dan VOS, tidak ada preposisi dalam bahasa yang memiliki susunan beruntun SOV (Song, 2001:3). Fakta ini sekaligus dapat menjawab pertanyaan mengapa sebuah bahasa tidak memiliki preposisi, tetapi memiliki posposisi dan sebaliknya. Tentu saja jawaban dari pertanyaan ini adalah sebagai berikut.

(1)   Sebuah bahasa memiliki preposisi karena bahasa tersebut memiliki susunan beruntun VSO atau VOS.

(2)   Sebuah bahasa memiliki posposisi karena bahasa tersebut memiliki susunan beruntun SOV.

Kedua jawaban tersebut jika diformulakan adalah sebagai berikut.

“Jika sebuah bahasa memiliki verba inisial, bahasa tersebut juga memiliki preposisi, tetapi jika sebuah bahasa tidak memiliki verba inisial, bahasa tersebut tidak memiliki preposisi”

Keterangan Singkatan

S                      subject

V                     verb

O                     object

FUT                 future

ABF                absolutive

CMP                completive

CLT                 clitic

PST                 past

Daftar Bacaan

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramaedia Pustaka Utama.

Song, Jae Jong. Linguistic Typology: Morphology and Syntax. London: Longman.

Viktoria, Fromkin dan Robert Rodman. 1993. An Introduction to Language. New York: Harcourt Brace Jovanovich College.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s