Bunyi /b/ dan /p/ dalam Bahasa Aceh

oleh Safriandi, S.Pd.

(Mahasiswa Pascasarjana Unsyiah)

            Dalam kaidah tulis menulis bahasa Aceh, sering dijumpai penulisan kata yang bermakna beliau dalam bahasa Aceh dengan dua versi penulisan. Versi pertama adalah gopnyan (suku kata gop diakhiri oleh bunyi /p/), sedangkanversi kedua adalah gobnyan (suku kata pertama yaitu gob diakhiri oleh bunyi /b/. Berdasarkan data tersebut, sebenarnya penulisan manakah yang benar? Apakah suku kata pertama, yaitu gop diakhiri oleh bunyi /p/ atau bunyi /b/? Untuk menjawab hal ini, terlebih dahulu diuraikan cara pengucapan kedua bunyi ini dihasilkan.

            Bunyi /p/ dan /b/ merupakan bunyi bilabial. Artinya, bunyi ini dihasilkan dengan pertemuan di antara dua bibir. Meskipun dihasilkan dengan alat artikulasi yang sama, kedua bunyi diproduksi dengan cara yang berbeda. Bunyi /p/ diucapkan tanpa mengalami pergetaran pita suara sehingga dia disebut bunyi hambat tak bersuara (voiceless). Akan tetapi, bunyi /b/ mengalami pergetaran pita suara ketika ia diucapkan sehingga bunyi disebut bunyi hambat bersuara (voice). Anda dapat mengetahui getaran pita suara tersebut dengan cara mengucapkan kedua bunyi tersebut sambil memegang anak tekak Anda.Yang akan dirasakan adalah leher yang bergetar ketika mengucapkan bunyi /b/ dan leher yang tidak bergetar ketika mengucapkan bunyi /p/.

            Berkaitan dengan konsep di atas, untuk menyatakan beliau dalam bahasa Aceh, apakah penulisan yang benar adalah gopnyan atau gobnyan? Ternyata sesudah dipraktikkan, bunyi di akhir suku kata gop diucapkan dengan tidak menggetarkan pita suara. Dengan demikian, salahlah penulisan kata gobnyan yang diakhiri oleh bunyi /b/ pada suku kata pertamanya.

Hal lain yang juga dapat disimpulkan adalah dalam bahasa Aceh tidak terdapat bunyi /b/ di akhir suku kata. Alasannya juga mengacu pada konsep yang sama seperti yang telah dijelaskan di atas. Tidak  adanya bunyi /b/ di akhir suku kata dalam bahasa Aceh dikemukan oleh seorang linguis Aceh yang bernama Dr. Abdul Gani Asyik M.A. Beliau merupakan dosen di FKIP Unsyiah Jurusan Bahasa Inggris. Pendapat yang beliau sampaikan tentang tidak adanya bunyi /b/ di akhir suku kata bahasa Aceh sudah dianut oleh banyak orang dan mereka menerapkannya ketika menulis teks-teks berbahasa Aceh. Namun, masih terdapat pula orang yang menulis kata gobnyan yang suku pertamanya diakhiri oleh bunyi /b/.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s