Pengembangan Bahasa Aceh

oleh: Safriandi, S.Pd.

Pengembangan berarti segala usaha peningkatan mutu bahasa agar bahasa tersebut dapat dipakai untuk memenuhi bermacam-macam keperluan. Pengembangan bahasa Aceh dapat dilakukan melalui penelitian, pembakuan, dan pemeliharaan.

Penelitian

            Sampai dengan saat ini belum begitu banyak penelitian mengenai bahasa Aceh. Hal itu dapat dibaca dalam tulisan Carlson (1983), Durie (1985), dan Asyik (1987). Semua penelitian atau karya tentang bahasa Aceh tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga bidang utama, yaitu kamus, gramatika, dan sastra.

            Kamus bahasa Aceh pertama sekali dibuat oleh Van Lengen pada tahun 1889 untuk keperluan transkripsi sastra Aceh dari huruf Arab ke huruf Latin, Namun, karena bukan seorang ahli bahasa, Van Lengen mengalami kesulitan untuk memerikan lafal orang Aceh melalui sastra yang pada umumnya disusun dalam bentuk kata-kata bersajak. Baru tiga tahun kemudian, pada tahun 1892, keluar sebuah kamus bahasa Aceh dari Snouck Hurgronje, dengan ejaan yang lebih baik, yang diambil dari ejaan bahasa Perancis karena vokal-vokal bahasa tersebut memiliki banyak persamaan dengan vokal-vokal bahasa Aceh. Karya Snouck kemudian menjadi pegangan beberapa penulis kamus Aceh, seperti Kreemer, (1931) dan Djajadiningrat (1934). Akan tetapi, dalam periode berikutnya, terutama setelah bahasa Aceh memiliki ejaan tersendiri pada tahun 1980 dari hasil seminar bahasa Aceh di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, ejaan Snouck mengalami beberapa perubahan agar lebih sederhana, seperti huruf Arab ‘ain (ع)  diganti dengan koma terbalik (‘) pada vokal sengau, huruf hamzah (ء) diganti dengan tanda petik (‘), serta tanda trema di atas huruf e (ё) dihilangkan. Perubahan itu telah mempengaruhi penulisan kamus yang terbit kemudian, misalnya Kamus Aceh Indonesia oleh Aboe Bakar dkk. pada tahun 1985.

            Studi mengenai gramatika bahasa Aceh telah dimulai Snouck pada tahun 1900 walaupun masih dalam bentuk catatan kasar. Hal yang sama juga kemudian dilakukan oleh Anzib (1966) dan Ishak (1968). Perhatian yang sungguh baru mulai dicurahkan sekitar tahun 1970-an oleh beberapa penulis Aceh, seperti Asyik (1972, 1978,1982), Sulaiman (1975, 1978), serta dosen Universitas Syiah Kuala melalui proyek penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah yang dimulai sejak tahun 1976. Beberapa karya dosen itu yang kemudian diterbitkan, antara lain ditulis oleh Ali dkk. (1983, 1984), Hanafiah dan Makam (1984), Hanoum dkk. (1986), serta Wildan dkk. (1999). Tiga buah disertasi juga telah dihasilkan oleh orang Aceh sendiri yaitu Asyik (1987), Djunaidi (1996), dan Daud (1997). Beberapa tulisan lain juga telah diluncurkan oleh Djunaidi (1997, 1999a, 1999b, 1999c, 1999d, 2000, 2001a, 2001b). Wildan (2001) juga ikut menulis buku pelajaran Tata Bahasa Aceh untuk madrasah dasar dan madasrah lanjutan yang dieditori oleh Djunaidi….(Sumber: bahan kuliah Sintaksis yang disampaikan oleh Dr. Abdul Junaidi, M.S.)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s