Pengelompokan Bahasa di Dunia

 oleh Safriandi, S.Pd.

Manusia di dunia ini merupakan makhluk yang heterogen. Keheterogenan tersebut mencakup berbagai aspek. Salah satu aspek yang dimaksud adalah bahasa. Di dunia ini terdapat ribuan bahasa yang dipakai oleh manusia. Bahasa-bahasa yang dipakai oleh manusia ini tentu saja untuk berinteraksi antarsesama. Namun, pernahkah terpikir oleh kita tentang asal mula bahasa. Apakah bahasa yang beribu-ribu yang dipakai oleh manusia sekarang berasal dari satu bahasa? atau mungkin berasal dari satu bahasa?

Berkaitan dengan asal mula bahasa ini, ada beberapa spekulasi yang muncul. Ada orang yang menganggap bahwa semua bahasa di dunia ini berasal dari bahasa Ibrani. Anggapan ini menyiratkan sebuah spekulasi lagi yaitu Adam dan Hawa berbicara dengan bahasa Ibrani di Taman Firdaus. Suku Dayak Iban di Kalimantan mempunyai legenda yang menyatakan bahwa pada zaman dahulu manusia hanya memiliki satu bahasa, tetapi karena keracunan cendawan, mereka berbicara dalam berbagai bahasa sehingga timbul kekacauan dan berpencar ke segala penjuru. Di abad ke-17 seorang filosof Swedia menyatakan bahwa di surga Tuhan berbicara dengan bahasa Swedia, Adam berbicara dengan bahasa Denmark dan ular berbicara dalam bahasa Prancis. Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan ini, yang jelas tidak ada data yang konkret tentang asal mula bahasa.

 

Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan pengelompokan terhadap bahasa-bahasa di dunia dan mencari kemungkinan rumpun-rumpun bahasa yang ada di dunia. Berkaitan dengan hal ini, terdapat suatu cabang linguistik yang menelaah perbandingan bahasa yaitu linguistik historis komparatif. Dalam studi linguistik komparatif, bahasa-bahasa di dunia diklasifikasikan. Ada beberapa kriteria yang dipakai untuk mengklasifikasikan bahasa. Menurut Greenberg, suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekshautik, dan unik. Yang dimaksud dengan nonarbitrer adalah bahwa kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya. Artinya, dalam pengklasifikasian bahasa hanya harus ada satu kriteria, tidak boleh ada dua atau lebih kriteria. Ekshaustik adalah setelah klasifikasi dilakukan, tidak ada lagi sisanya. Semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok. Hasil klasifikasi juga harus bersifat unik. Artinya, bahasa yang telah masuk ke dalam salah satu kelompok bahasa tidak dapat masuk ke dalam kelompok bahasa yang lain. kalau sebuah bahasa dapat masuk ke dalam dua kelompok atau lebih, berarti hasil klasifikasi tidak unik.

 

Ada beberapa pendekatan yang dipakai dalam mengklasifikasikan bahasa. Pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan genetis, (2) pendekatan tipologis, (3) pendekatan areal, (4) pendekatan sosiolinguistik (Chaer, 2003:72). Berikut ini dijelaskan satu per satu keempat pendekatan tersebut.

 

Pendekatan Genetis

 

Klasifikasi genetis ditemukan oleh A. Schleicher dan dikemukakan pada tahun 1866. Klasifikasi genetis ini dikembangkan oleh J. Schmidt pada tahun 1872 dengan nama teorinya adalah teori gelombang. Klasifikasi genetis atau dikenal juga dengan klasifikasi geologis adalah klasifikasi bahasa berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut pendekatan ini, suatu bahasa proto akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Bahasa-bahasa pecahan ini akan menurunkan bahasa lain dan menurunkan lagi bahasa pecahan berikutnya.

 

 

Pengklasifikasian bahasa dengan menggunakan pendekatan genetis ini dilakukan dengan cara melihat adanya kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandung oleh bahasa tersebut. Bahasa-bahasa yang memiliki kesamaan bentuk (bunyi) dan arti tersebut dianggap berasal dari satu bahasa proto. Sejauh ini hasil klasifikasi yang telah dilakukan dan banyak diterima orang secara umum adalah bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia ini terbagi atas sebelas rumpun besar, lalu setiap rumpun dapat dibagi lagi atas subrumpun, dan sub-subrumpun yang lebih kecil. Kesebelas subrumpun itu adalah sebagai berikut.

 

Rumpun Indo Eropa: Anatolia, Tekharia, Albania, Armenia, Germania, Italia, Keltik, Yunani, Balto-Slavia, Indo-Irania (Langacker dalam Paul, 2002:25).

 

Bahasa Anatolia sudah lama punah. Bahasa ini digunakan dalam peninggalan-peninggalan di Asia kecil kira-kira 1400 S.M. bahasa ini secara lebih rinci melalui bahasa Hittite, Luwia, Palaia, dan Lydia.

 

Bahasa Tokharia juga sudah lama punah. Ia hanya dapat dikenal melalui peninggalan-peninggalan masa lampau pada abad keenam sampai dengan kedelapan masehi.

 

Bahasa Albania dipakai di Albania dan menyebar dan menyebar ke Italia dan Yunani. Bahasa Armenia digunakan di Kaukasus Selatan dan beberapa bagian Turki.

 

Bahasa Germania adalah subrumpun yang paling utama dalam kelompok ini karena terhadap bahasa ini pernah dilakukan studi yang sangat mendalam. Selain itu juga, bahasa Germania memiliki penutur yang cukup besar. Yang termasuk dalam kelompok bahasa Germania ini adalah bahasa Gotik yang terakhir di Krimeia pada abad ke-16. Selain Gothik adalah bahasa-bahasa Skandinavia yang meliputi bahasa Irlandia, Denmark, Swedia, dan Norwegia. Juga tergolong dalam subrumpun ini adalah bahasa Germania Barat yang mencakup antara lain bahasa Inggris, Friasia (yang dipakai di pesisir Belanda dan pulau-pulau di Laut Utara). Bahasa-bahasa Germania Barat dapat dibagi dua yaitu bahasa Jerman Tinggi dan bahasa Jerman Rendah. bahasa Jerman Tinggi digunakan di kawasan tinggi bergunung yang membentang dari utara ke selatan. Dialek Austria, Jerman bagian selatan dan Swiss termasuk kelompok bahasa Jerman Tinggi. Bahasa Jerman Rendah termasuk bahasa Belanda, Flem (di Belgia) dan dialek-dialek di Jerman bagian utara. Bahasa Yahudi dipakai di Eropa Timur berabad-abad silam termasuk bahasa Jerman Tinggi, sementara bahasa Afrikaans, yang dipakai di Afrika Selatan merupakan pengembangan dari bahasa Belanda.

 

Kelompok bahasa Italia meliputi bahasa Italia Kuno serta semua bahasa turunan seperti Latin, Oska, Umbria. Selain Latin yang mampu bertahan menjadi salah satu bahasa Roman, bahasa-bahasa Italia Kuno tersebut telah lama punah. Bahasa-bahasa Roman modern mencakup bahasa Prancis, Spanyol, Italia modern, Portugis dan Rumania.

 

Bahasa Keltik tidak begitu luas penyebarannya karena hanya dapat bertahan di pulau-pulau kecil di Inggris dan Prancis, misalnya Breton yang dituturkan di Brittania dan Prancis bagian barat laut. Di Inggris kepulauan dijumpai bahasa-bahasa Welsh, Irlandia, Skot, Gaelik, dan Manx. Selain bahasa-bahasa tersebut, masih terdapat satu bahasa lagi yaitu bahasa Kornish yang telah punah sejak abad ke-18.

 

Bahasa Yunani sangat populer lebih dari 3.000 tahun. Bahasa Yunani Kuno terbentuk dari perpaduan antara berbagai dialek lokal. Yang paling utama adalah Yunani Attik, dialek orang-orang Athena. Bahasa ini menjadi sangat penting sebagai akibat dari kejayaan budaya Athena yang mempengaruhi seluruh kekaisaran Yunani. Semua dialek modern dari Yunani sekarang berasal dari Yunani Attik.

 

Bahasa Balto-Slavik ini mungkin dapat diperlakukan sebagai dua kelompok bahasa yang berbeda meskipun serumpun. Kelompok Baltik mencakup bahasa Lithuania, Latvia, dan Prusia. Jenis bahasa yang terakhir ini sudah punah. Kelompok Slavik pada umumnya dibagi ke dalam subkelompok Slavik Selatan, Timur, dan Barat. Slavik Selatan meliputi Kroasia-Serbia, Slovenia, dan Bulgaria. Slavik Timur mencakup bahasa Rusia, Ukrania, dan Beylorusia. Bahasa Ceko dan Slovakia merupakan dua dialek dari satu bahasa dan tergolong bahasa Polandia dalam kelompok Slavik Barat. Catatan-catatan masa silam yang berhasil ditemukan dalam bahasa Slavik berupa kitab suci pada abad ke-9. Bahasa terjemahan ini merupakan bahasa Liturgi dan dikenal sebagai bahasa Slavonik Kuno ragam gereja atau disebut juga bahasa Bulgaria Kuno ragam gereja.

 

Subrumpun terakhir adalah Indo-Irania. Subrumpun Indo-Irania adalah bahasa Persia yang dipakai di Iran. Bahasa ini sudah dikenal sejak abad ke-6 masehi. Bahasa Pashto yang dipakai di Afganistan, Osetik di Kaukasus Utara, Kurdish di Iran, Irak, dan Turki, bahasa Avesta yaitu bahasa bangsa Avesta yang diketahui melalui peninggalan tertulis bersejarah dari zaman Zoroastria pada abad ke-6 S.M. bahasa Avesta ini sudah tidak mewakili penuturnya lagi. Selain sub-subrumpun bahasa yang telah disebutkan di atas, terdapat juga subrumpun bahasa India. Kelompok subrumpun bahasa India ini adalah bahasa Sanskrit yang dapat ditelurusi sampai 1.200 S.M. dan juga bahasa-bahasa modern di India dan Pakistan bagian utara seperti bahasa Hindi, Urdu, Bengal, Punjab, Gujarat, Marath, Nepal, dan Kashmir.

 

Rumpun Hamito-Semit atau Afro-Asiatik. Yang termasuk ke dalam subrumpun Hamito adalah bahasa-bahasa Koptis, Berber, Kushid, Chad. Yang termasuk ke dalam subrumpun Semit adalah bahasa Arab, Etiopik, dan Ibrani.

 

Rumpun Chari Nil. Yang termasuk ke dalam bahasa rumpun ini adalah bahasa-bahasa Swahili, Bantuk, dan Khoisan.

 

Rumpun Dravida adalah bahasa-bahasa Telugu, Tamil, Kanari, dan Malayalam.

 

Rumpun Autronesia (disebut juga Melayu Polinesia). Subrumpun bahasa ini adalah bahasa-bahasa Indonesia (Melayu, Austronesia Barat), Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia.

 

Rumpun Kaukasus.

 

Rumpun Finno Ugris adalah bahasa-bahasa Hungar, Lapis, dan Samoyid.

 

Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis adalah bahasa-bahasa yang terdapat di Siberia Timur.

 

Rumpun Ural-Altai adalah bahasa-bahasa Mongol, Manchu, Tungu, Turki, Korea, dan Jepang.

 

Rumpun Sino-Tibet adalah bahasa-bahasa Yeniasei, Ostyak, Tibeto, Burma, dan Cina.

 

Rumpun bahasa-bahasa Indian adalah bahasa-bahasa Eskimo, Aleut, Na-Dene, Algonkin, Wakshan, Hokan, Sioux, Penutio, Aztek-Tanoan, dsb.

 

Klasifikasi genetis ini memperlihatkan bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yaitu memecah dan menyebar menjadi banyak. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti bahasa-bahasa yang ada di dunia ini akan mengalami perkembangan yang konvergensif. Tidak menutup kemungkinan pula akan semakin banyak bahasa yang punah karena kehilangan penuturnya. Kepunahan ini muncul karena berbagai faktor. Bisa jadi salah satu faktornya karena penutur melihat ada atau tidaknya keuntungan yang dimiliki oleh bahasanya yang dipakai olehnya itu.

 

Referensi

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Ohoiwotun, Paul. 2002. Sosiolinguistik. Jakarta: Visipro.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s